TOXIC RELATIONSHIP??
Apakah Anda Berada dalam Toxic Relationship??
Fenomena Toxic Relationship akhir-akhir ini masih menjadi perbincangan hangat di sejumlah kalangan podcaster, youtuber, blogger, bahkan di siaran TV sampai dengan kehidupan sehari-hari. Toxic Relationship atau diartikan sebagai hubungan beracun adalah hubungan apapun antara orang-orang di mana mereka tidak saling dukung.
Di dalamnya ada konflik di mana yang satu berusaha menghancurkan yang lain, ada persaingan, rasa tidak hormat, dan kurangnya kekompakan. Pasang surut dalam hubungan itu biasa, namun konflik hanya menggerus kebahagiaan dan menguras tenaga orang-orang dalam hubungan itu sendiri. Toxic Relationship bisa terjadi dalam hubungan romantis antara teman, sahabat, keluarga bahkan rekan kerja.
Lalu, kapan kita berada dalam Toxic Relationship?
Yaps, ketika moment negative lebih banyak daripada moment positive. Dalam konteks berpasangan seseorang yang terjebak dalam hubungan beracun terus menerus merasa tidak bahagia, penuh rasa sedih, cemas, pasrah, gugup, marah, dan tidak nyaman terutama di dekat pasangan. Orang di dalam hubungan beracun, perkembangan dirinya cenderung mandet, harga dirinya hancur, dan putus hubungan dengan dirinya sendiri.
Pelecehan dan kekerasan jelas menjadi tanda hubungan itu beracun tapi gejalanya bisa lebih ringan dari itu namun punya efek merusak yang sama. Seseorang yang manipulatif dalam hubungan beracun biasanya berusaha membunuh karakter anda dengan halus namun terus-menerus. Misalnya memanggil dengan panggilan yang merendahkan anda dengan maksud bergurau. Ia juga mengontrol berlebihan bagaimana anda harus bersikap.
Dalam konteks berpasangan mengatur dengan siapa anda boleh atau tidak boleh berteman, minta anda harus laporan dengan siapa, ngobrol apa, kemana aja dan ia juga sengaja membuat anda dan keluarga anda tidak nyaman saat berkunjung. Ia merasa keberatan ketika anda punya aktivitas sendiri di luar aktivitas bersama. Ia mengatur apa yang anda boleh pakai atau tidak. Boleh makan atau tidak, intinya membuat anda merasa bersalah. Jika tidak dituruti sang manipulator bersikap pasif, agresif untuk membuat anda merasa bersalah selama mungkin. Lama-lama anda jadi mempertanyakan diri sendiri dan mulai berpikir anda yang gila.
Sang manipulator sangat sulit minta maaf meski tau dia salah. Seseorang yang selalu negatif juga bisa menjadi beracun karena ia menarik orang lain ke lubang negatifitas yang sama sehingga mengurangi kualitas hidup orang lain juga. Hidup dalam Toxic Relationship bak berjalan di atas cangkang telur, Rapuh.. anda takut sekali mengekspresikan yang anda sejujurnya rasakan dan pikirkan. Dalam Toxic Relationship anda tidak pernah merasa cukup dihadapan pasangan karena harus jadi versi yang dia dambakan walaupun versi itu bertolak belakang dengan versi diri anda sebenarnya
Bagaimana Seseorang Bisa Terjebak dalam Toxic Relationship?
Biasanya karna ia tumbuh mengamati orang tua atau anggota keluarga yang berperilaku dengan pola beracun let say kronis dalam hubungan mereka. Ketika dewasa mereka menganggap pola destruktif ini normal karna tidak punya referensi hubungan sehat itu seperti apa. Akhirnya, waktu dewasa dia menjadi toxic untuk orang lain atau ia menerima saat diperlakukan buruk.
Hubungan yang Baik itu Seperti Apa?
Menurut sejumlah psikolog, suatu hubungan sehat ketika orang-orang di dalam hubungan itu punya nilai-nilai dasar atau tujuan hidup yang sama. Saling menghormati, saling percaya, mendorong satu sama lain untuk berkembang menjadi versi terbaik bagi masing-masing. Semuanya tanpa paksaan. Suatu hubungan sehat, ketika orang-orang di dalamnya punya hubungan yang realistis satu sama lain dan punya kontribusi seimbang dalam hubungannya. Mereka bisa menikmati waktu saat bersama maupun di saat sendiri. Meski berpasangan, masing-masing masih memegang identitasnya sendiri.
Menurut filsuf modern, ada 3 elemen penting dalam hubungan yang memuaskan yaitu: Kebaikan hati, kerapuhan dan keterbukaan (meski dapat mengundang kritikan), dan pengertian. Pasangan dalam hubungan sehat akan saling berlaku lembut dalam menghadapi ketidaksempurnaan yang ada pada diri masing-masing. Mereka saling terbuka dan jujur atas kecemasan atau kekhawatiran masing-masing. Apa yang disuka dan cara melihat dunia atau apapun yang membuat dia merasa hidup.
Semua masalah bisa dibicarakan baik-baik, apapun tantangan di suatu hubungan pasti bisa dicari jalan keluar terbaiknya. Hubungan adalah kerja keras, pertengkaran itu normal dan jalan yang tidak selalu mulus adalah bagian dari perjualan hidup. Namun, perlu kita ingat dalam suatu hubungan jika lebih banyak situasi negatif daripada positif jika komunikasi yang manusiawi dan terbuka sudah ditempuh namun tidak ada kemajuan apapun, mungkin sudah saatnya untuk keluar dari hubungan itu. Pilihan ada di tangan anda!
References:

Wahh pembahasannya keren juga
BalasHapusJadi pingin punya toxic relationship
BalasHapusHuft semoga dijauhkan dari toxic relationship
BalasHapusselalu dalam healthy relationship ya...
HapusInformatif sekali
BalasHapussangat informatif buat aku yang jomblo
BalasHapus
BalasHapusinformatif
Ngeri deh sama toxic relationship
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapuswah pembahasan yg bagus!!
BalasHapussemoga kita ga berada di toxic relationship yaa, terimakasii untuk wejangan dr tulisan ini
BalasHapusGud
BalasHapusWah pembahasannya bagus banget🙌, semoga kita dijauhkan dari hal2 yg toxic
BalasHapusbermanfaat bgt bahasannya
BalasHapusPembahasan ya bagus banget mantap kak
BalasHapuswah bagus banget!!
BalasHapusKereennn
BalasHapusTerimakasih ilmunya ka :”))
BalasHapushuhuhhuhuuhuhuh.. jauhkan aku ya Allah
BalasHapusseruuu bgtt!
BalasHapusInformatif sekali
BalasHapusSangat informatif!
BalasHapusGood
BalasHapusInformatif sekali
BalasHapusAku baca ampe habis, aduh semoga selalu di dalam healthy relationship deh🥺
BalasHapuskapan ya ak punya pasangan
BalasHapusgooooooiiod
BalasHapusMantappl!!! Bermanfaat bgttt
BalasHapusnyata
BalasHapuswah makasi yah infonya
BalasHapusKeremmm
BalasHapusTypo kerenn bingit
Hapusyang sangat disayangkan, seringkali sesorang yang sadar dan paham bahwa dia berada di dalam toxic relationship pun lebih memilih untuk mempertahankan daripada menyudahi☹️
BalasHapusnah setuju, nanti kita akan bahas di part selanjutnya yah so, stay tune temn-temen
HapusToxic relationship seringnya terlambat untuk disadari
BalasHapusCerita menarik banget menginspirasi dan menambah pengetahuan
BalasHapusCerita menarik banget menginspirasi dan menambah pengetahuan
BalasHapusManteuupss nih
BalasHapuswah jangan sampe deh kena toxic relationship lagi :))
BalasHapus