PSIKOLOGI VS PANDEMI COVID-19

Masalah Jangka Panjang Apa yang Akan Dikaitkan Dengan Pandemi Covid-19?

      

Source: CNN Indonesia

          Masalah kesehatan mental mana yang paling mungkin bertahan lama akibat Pandemi Covid-19? Psikolog meyakini gangguan obsesif-kompusif bisa menjadi salah satu kandidat utama. Psikolog menekankan bahwa sifat dan skala krisis virus corona yang belum pernah terjadi sebelumnya menambah lapisan ketidakpastian dibandingkan dengan krisis keuangan sebelumnya.
        Pandemi ini membawa kita kepada rindu, Covid-19 telah meningkatkan kecemasan banyak orang. Jejak langkah yang dulu bersama teman, sahabat, dan karib karabat kini menjadi soliter tanpa irama. Sentuhan hangat yang dulu melekat erat, kini hilang kandas dan usang. Perlahan rasa ini semakin berat. Masalah psikologis memang menjadi masalah rutin tiap kali terjadi wabah penyakit menular. Harus isolasi, jauh dari teman, kesepian, bosan, dan perasaan mengganggu lainnya. Tidak hanya terjadi saat wabah Covid-19 ini. Wabah sebelumnya seperti SARS, MERS, EBOLA juga menimbulkan masalah yang sama. Aturan PSBB membatasi banyak aktivitas kita di berbagai sektor dan memicu masalah lain seperti ekonomi, pendidikan, maupun kesehatan fisik dan psikologis. Owkay mari kita bahas masalah psikologis ini. 

Masalah psikologis yang timbul karena adaptasi kebiasaan baru selama pandemi meliputi:
  1. Maladaptive Behavior, yaitu perilaku negative seperti memborong sembako, memborong masker, dan barang lainnya. 
  2. Defensife Response, misalnya timbul stigma negative dan juga senophobia. 
  3. Emotional Distress, yaitu reaksi fisik yang berlebihan terhadap suatu masalah.
        Kali ini kita akan lebih berfokus membahas Emotional Distress. Adaptasi terhadap perubahan yang terjadi dalam menjalankan aktifitas keseharian yang baru bukan merupakan hal yang mudah. Kesulitan dalam menghadapi perubahan ini dapat meningkatkan stress. Selain itu, mengingat banyaknya informasi mengenai Covid -19 dari berbagai platform dapat menyebabkan intensitas stress yang bertambah. Apalagi bagi orang-orang yang rentan terinfeksi seperti orang tua karena mereka memiliki imun yang lemah. Tenaga kesehatan yang sealu terpapar dengan pasien. Dan juga orang-orang yang memiliki gangguan psikologi sebelumnya, tentunya mereka lebih rentan mengalami stress. 
        Contoh konkrit lainnya seperti beban keluarga yang bertambah berat karena ekonomi yang turun, banyak pekerjaan online namun masih saja Gaptek, internet mati padahal tugas online banyak banget dan berbagai hal menyebalkan lainnya. Semua itu tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan dan membuat kita menjadi stress.

Berdasarkan teori stress yang dikembangkan oleh Hans Selye, stress yang terjadi pada orang memiliki 3 tahapan yaitu:
  1. Alarm Stage, saat ekspektasi tidak sesuai dengan realita tubuh kita seakan-akan tidak terima dan mengeluarkan respons aktivasi Saraf Simpatis yang membuat rasa degdegan, cemas, sakit kepala, dan lain-lain. Selain itu juga, dikeluarkan hormon kortisol yang bersifat menurunkan sistem imun.
  2. Resistance Stage, tubuh akan menahan dan mengkompensasi dengan cara aktivasi Saraf Parasimpatis untuk mencoba mengembalikan banyak fungsi fisiologis ke tingkat normal kembali. Hal ini merupakan cara tubuh untuk melawan stress.
  3. Exhaustion Stage, saat stress terus berlanjut melampaui ambang yang dapat diterima tubuh, organ tubuh akan menjadi kelelahan dan rentan terhadap penyakit. Seperti hipertensi, diabetes militus, dan lainnya bahkan hingga kematian. 
Gejala Stress di antaranya yaitu: 
  1. Gejala Fisik, berupa sakit kepala, masalah pencernaan, kurang tidur, gatal-gatal, nyeri ulu hati, keringat malam, nyeri punggung kronis, otot tegang, kehilangan nafsu makan, berat badan turun, keinginan seksual yang berkurang, ketidakteraturan menstruasi. 
  2. Gejala Mental, seperti kemarahan, frustasi, depresi, kemurungan, kecemasan, masalah dengan memori, kelelahan, peningkatan penggunaan zat.
  3. Pekerjaan, berupa produktivitas yang menurun.   
Stress tidak hanya sepenuhnya negatif lho?!
        Stress merupakan respon psikologis yang bermanfaat bagi tubuh kita asalkan dengan intensitas yang tepat. Grafik di bawah ini menjelaskan dengan tepat manfaat dan kerugian yang ditimbulkan oleh stress. 


Source: Researchgate.net

        Dapat kita lihat, bahwa intensitas stress yang optimal akan memberikan kinerja yang maksimal, sedangkan jika intensitas stress yang terlalu rendah memang akan memberikan rasa nyaman tetapi, berdampak pada kinerja yang buruk. bayangkan saja temen-temen kalau kita tidak merasa stress karena Covid-19 apakah kita akan peduli protokol kesehatan? Oh tentu saja tidak :") . Sebaliknya, jika intensitas stress terlalu tinggi akan menimbulkan kinerja yang menurun dan berdampak negative terhadap kesehatan. 
 
Berikut ini hal-hal yang harus dihindari dalam menjaga kesehatan Mental
  1. Hindari penggunaan Napza
  2. Hindari makanan cepat saji berlebih 
  3. Hindari aktivitas online yang berlebihan
  4. Hindari menonton program Televisi berlebih
  5. Hindari Berpesta/ Berpergian keluar rumah
  6. Hindari menyebarkan berita hoax
Berikut ini tips untuk menghindari stress
  1. Perbanyak Positive Thinking 
  2. Olahraga secara teratur 
  3. Pengaturan makan yang seimbang 
  4. Beristirahat sebentar dari aktivits kerja
  5. Curhat ke orang terdekat
  6. Dan melakukan berbagai aktivitas yang kita senangi. 
Apabila teman-teman tidak dapat mengendalikan stress dan stress bertambah buruk sebaiknya segera konsultasikan ke Dokter ataupun Psikolog. 

#STAYSAFEYAHTEMEN-TEMEN

Referensi:

Ananda, Sherien S.D., Apsari, Nurliana C,. (2020). Mengatasi Stress Pada Remaja saat Pandemi Covid-19 dengan Teknik Self Talk. Prosiding Penelitian & Pengabdian Kepada Masyarakat. http://jurnal.unpad.ac.id/prosiding/article/view/29050

Cullen, W., Gulati, G., & Kelly, B. D. (2020). Mental health in the COVID-19 pandemic. QJM : monthly journal of the Association of Physicians, 113(5), 311–312. https://doi.org/10.1093/qjmed/hcaa110

Gaol, Nasib. (2016). Teori Stres: Stimulus, Respons, dan Transaksional. Buletin Psikologi. 24. 1. 10.22146/bpsi.11224.

 


Komentar

Posting Komentar